Kamis, 19 Januari 2012

Tradisi Kebudayaan Nahdlatul Ulama (NU)

Tradisi Kebudayaan Nahdlatul Ulama (NU)

Disajikan untuk LATIHAN KADER MUDA V (LAKMUD V)
PAC IPNU IPPNU Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan
(Ahad 22 Januari 2012)
Prakata
Peristiwa berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) tidak terlepas dari beberapa organisasi yang dibentuk oleh para tokoh NU, seperti Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air), Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air), Tashwirul Afkar (Forum Diskusi), Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Para Pedagang) dan lain-lain. Dengan terbentuknya organisasi ini, maka pada akhirnya terbentuklah juga sebuah organisasi besar yang mewadahi para ulama dan kalangan tradisionalis (pesantren). Tepatnya pada tanggal 31 Januari 1926 M atau 16 Rajab 1344 H, para ulama terkemuka se Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya untuk mendirikan sebuah organisasi yang kemudian diberi nama Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU). Inilah salah satu perjalanan dan proses NU berdiri, dengan harapan untuk mempertahankan dan memperjuangkan ajaran Islam ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja).
Dalam catatan sejarahnya, Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas yang bertujuan melestarikan, mengembangkan, dan mengamalkan ajaran Islam Aswaja. Arti Aswaja, ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan, Aswaja adalah orang yang mengikuti dan berpegang teguh kepada Al-Quran, Al-Hadits, Al-Ijma' dan Al-Qiyas. Latar belakang tersebut, paham Aswaja tidak bisa dilepaskan dari kedudukan Hadits sebagai dasar dari setiap diskursus keagamaan yang dilakukannya.

Tetapi, menurut pandangan NU, bukan berarti Aswaja dan "ber-mazhab", kita diharuskan langsung untuk memahami dan menerapkan ajaran yang terkandung dalam Al-Quran dan Al-Hadits, tanpa mempertimbangkan bagaimana zaman yang selalu berubah. Bagaimana cara menghukumi sesuatu yang tidak ada dalilnya yang sharih (jelas) di dalam Al-Quran dan Al-Hadits. Dan, masalah-masalah sosial lainnya, yang juga tidak pernah ada dalam Al-Quran dan Al-Hadits.

Tradisi dan Budaya
Adapun salah satu ciri paling mendasar dari konsep Aswaja adalah, moderat (tawasuth). Konsep ini tidak hanya mampu menjaga para pengikut Aswaja tidak terjerumus pada perilaku keagaamaan yang ekstrim, berdakwah secara destruktif (merusak), melainkan mampu melihat dan menilai fenomena kehidupan masyarakat secara proporsional.

Dalam kehidupan, tidak bisa dipisahkan dari yang namanya budaya. Karena budaya adalah kreasi manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam memperbaiki kualitas hidupnya. Salah satu karakter dasar dari setiap budaya adalah perubahan yang terus-menerus sebagaimana kehidupan itu sendiri. Menghadapi budaya atau tradisi, yang terkandung dalam ajaran Aswaja telah disebutkan dalam sebuah kaidah:
اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ
yaitu mempertahankan kebaikan warisan masa lalu, mengambil hal yang baru yang lebih baik.

Inti Persinggungan

Sebenarnya inti pokok dari golongan yang menyoroti tradisi kebudayaan Nahdlatul Ulama semisal Tahlilan, Maulidan dsb adalah berpangkal dari tidak menerimanya mereka dengan pembagian bid’ah menjadi hasanah dan dhalalah. Mereka bersikukuh bahwasanya bid’ah hanya satu, yaitu Dhalalah.
Sering kali terdengar oleh kita perdebatan seputar masalah ini. bahkan perdebatan ini menjurus pada perpecahan. Padahal tidak harus demikian, justru perbedaan itu adalah rahmat, asalkan kita mau berlapang dada,
Oleh karena itu disini perlu kami kupas terlebih dahulu mengenai apa itu bid’ah.

Definisi & Pembagian Bid’ah

Imam Nawawi didalam Tahdzibul Asmaa’ wal Lughaat juz III halaman 22, mendefinisikan bid’ah sbb :


اَلُبِدْعَةُ بِكَسْرِ الْبَاءِ فِي الشَّرْعِ هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يِكُنْ فِيْ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَهِيَ مُنْقَسِمَةٌ إِلَى: حَسَنَةٍ وَقَبِيْحَةٍ

“Bid’ah didalam syara’ adalah mengada-adakan perkara yang tidak ada pada masa Rasulullah
shalullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, dan itu terbagi menjadi hasanah dan qabihah”.

Diskusi tentang pembagian ini telah menjadi perdebatan hangat antara ulama kita sejak dahulu hingga sekarang. Di antara mereka ada yang membagi bid’ah menjadi dua, yakni bid’ah hasanah dan dhalalah, sebagaimana pandangan Imam Asy Syafi’i dan pengikutnya, seperti Imam An Nawawi, Imam Abu Syamah. Selain itu juga Imam Ibnul Jauzi, Imam Ibnu Hazm, dan Imam al Qurthubi.
Namun, tidak sedikit ulama yang menolak keras pembagian itu, bagi mereka tidak ada bid’ah hasanah, apalagi hingga lima pembagian. Bagi mereka semua bid’ah adalah sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Kullu bid’atin dhalalah (setiap bid’ah adalah sesat). Mereka adalah Imam Malik, termasuk ulama moderat Syaikh Yusuf al Qaradhawy

Para Ulama yang Mengakui adanya Bid’ah Hasanah
Para ulama yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, bukan tanpa alasan. Di antara hujjah mereka adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, sebagai berikut:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:


حدّثني زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ. حَدّثَنَا جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ الحَمِيدِ عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ مُوسَىَ ابْنِ عَبْدِ اللّهِ بْنِ يَزِيدَ وَ أَبِي الضّحَىَ، عَنْ عَبْدِ الرّحْمَنِ بْنِ هِلاَلٍ الْعَبْسِيّ، عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللّهِ. قَالَ: جَاءَ نَاسٌ مِنَ الأَعْرَابِ إِلَىَ رَسُولِ اللّهِ صلى الله عليه وسلم. عَلَيْهِمُ الصّوفُ. فَرَأَىَ سُوءَ حَالِهِمْ قَدْ أَصَابَتْهُمْ حَاجَةٌ. فَحَثّ النّاسَ عَلىَ الصّدَقَةِ. فَأَبْطَؤُوا عَنْهُ. حَتّىَ رُؤِيَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ.
قَالَ: ثُمّ إِنّ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ جَاءَ بِصُرّةٍ مِنْ وَرِقٍ. ثُمّ جَاءَ آخَرُ. ثُمّ تَتَابَعُوا حَتّىَ عُرِفَ السّرُورُ فِي وَجْهِهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم: "مَنْ سَنّ فِي الإِسْلاَمِ سُنّةً حَسَنَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا. وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنّ فِي الإِسْلاَمِ سُنّةً سَيّئَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ".

“Barangsiapa dalam Islam membuat kebiasan baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahaala mereka yang mengikutinya. Barangsiapa dalam Islam membuat kebiasaan buruk, maka tercatat baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka.”

Sumber:
Shahih Muslim juz IV halaman 2058 hadits nomor 1017, cetakan Daar Ihyaa al Turaats al ‘Araby Beirut
Link Kitab: http://islamport.com/d/1/mtn/1/78/2915.html

Berkata Imam Nawawi Rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas:


قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم :
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا
وَفِي هَذَا الْحَدِيْثِ تَخْصِيْصُ قَوْلِهِ صلى الله عليه وسلم : " كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ " ، وَأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ اَلْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَعُ الْمَذْمُوْمَةُ ، وَقَدْ سَبَقَ بَيَانُ هَذَا فِيْ كِتَابِ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ ، وَذَكَرْنَا هُنَاكَ أَنَّ الْبِدَعَ خَمْسَةُ أَقْسَامٍ : وَاجِبَةٌ وَمَنْدُوْبَةٌ وَمُحَرَّمَةٌ وَمَكْرُوْهَةٌ وَمُبَاحَةٌ .

“Pada hadits ini terdapat takhsis (spesifikasi/pengkhususan/penyempitan) dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” Yang dimaksud oleh hadits ini adalah hal-hal baru yang batil dan bid’ah tercela. Telah berlalu penjelasan tentang ini pada pembahasan “Shalat Jum’at”. Kami menyebutkan di sana , bahwa bid’ah ada lima bagian: wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah”.

Sumber:
Syarh An Nawawi ‘alaa Shahiih Muslim, juz III halaman 461
Link Kitab: http://islamport.com/d/1/srh/1/37/834.html

Dalam kitab yang sama 3/247 (http://islamport.com/d/1/srh/1/37/831.html) Imam Nawawi ketika mengomentari hadits: “KULLU BID’ATIN DHALAALAH, beliau menjelaskan sbb:

قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم : وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
هَذَا عَاٌم مَخْصُوْصُ ، وَالْمُرَادُ غَالِبُ الْبِدَعِ . قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ : هِيَ كُلُّ شَيْءٍ عُمِلَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ . قَالَ الْعُلَمَاءُ : اَلْبِدْعَةُ خَمْسَةُ أَقْسَامٍ : وَاجِبَةٌ وَمَنْدُوْبَةٌ وَمُحَرَّمَةٌ وَمَكْرُوْهَةٌ وَمُبَاحَةٌ

Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ”Setiap bid’ah adalah sesat” , ini termasuk ‘am makhshus (lafazh umum yang dikhususkan), karena bid’ah adalah setiap amalan yang tidak ada contoh sebelumnya.”


Imam Asy Syafi’i (150 – 204 H / 767 – 820 M)
Al Hafidh Abu Nu’eim meriwayatkan sebuah atsar dari Imam Syafi’i sbb:

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرٍ الْآجُرِّي ثَنَا عَبْدُاللهِ بْنِ مُحَمَّدٍ العطشي ثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ الْجُنَيْدِ ثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى قَالَ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِيَّ يَقُوْلُ اَلْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَذْمُوْمٌ وَاحْتَجَّ بِقَوْلِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِيْ قِيَامِ رَمَضَانَ نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هِيَ

. Berkata Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu: “Bid’ah itu ada dua; bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Maka, apa-apa saja yang sesuai dengan sunah maka itu terpuji, dan apa-apa saja yang menyelisihi sunah maka itu tercela.” Beliau beralasan dengan ucapan Umar dalam qiyam Ramadhan: “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini.”

Sumber:
Hilyatul Auliya karya Abu Nu’eim Ahmad ibn Abdullah al Ashbahani juz IX halaman 113, cetakan ke IV tahun 1405 H, Daar al Kitaab al ‘Araby
Link Kitab: http://islamport.com/d/1/mtn/1/43/1409.html


Ragam Tradisi

A. TAHLILAN
Disini kami angkat diskusi kami dengan sebuah group Wahhabi di internet, yaitu:
Penjelasan Gamblang Seputar Hukum Yasinan, Tahlilan, dan Selamatan.
Mereka mengangkat sebuah thema:
Ritual Tahlilan Menurut Kitab NU adalah bid'ah
Berikut isi diskusi tsb:
Wahhabi menulis:
Tahlilan yang dimaksudkan di sini bukanlah tahlilan menurut tinjauan Bahasa Arab. Dalam Bahasa Arab, makna tahlilan adalah mengucapkan laa ilaaha illallaah. Yang dimaksud dengan ritual tahlilan di sini adalah peringatan kematian yang dilakukan pada hari ke-3, 7, 40, 100 atau 1000
وَقَدْ اِطَّلَعْتُ عَلَى سُؤَالٍ رُفِعَ لِمَفَاتِيْ مَكَّةَ الْمُشَرَّفَةِ فِيْمَا يَفْعَلُهُ أَهْلُ الْمَيِّتِ مِنَ الطَّعَامِ وَجَوَابٍ مِنْهُمْ لِذَلِكَ
Aku- yaitu penulis kitab Hasyiyah I’anah al Thalibin- telah membaca sebuah pertanyaan yang diajukan kepada para mufti di Mekkah mengenai makanan yang dibuat oleh keluarga mayit dan jawaban mereka untuk pertanyaan tersebut.
(وَصُوْرَتُهُمَا).
Berikut ini teks pertanyaan dan jawabannya.
مَا قَوْلُ الْمَفَاتِي الْكِرَامِ بِالْبَلَدِ الْحَرَامِ دَامَ نَفْعُهُمْ لِلْاَنَامِ مَدَى الْاَيَّامِ، فِي الْعُرْفِ الْخَاصِّ فِيْ بَلْدَةٍ لِمَنْ بِهَا مِنَ الْاَشْخَاصِ أَنَّ الشَّخْصَ إِذَا انْتَقَلَ إَلَى دَارِ الْجَزَاءِ، وَحَضَر مَعَارِفُهُ وَجِيْرَانُهُ الْعَزَاءَ، جَرَى الْعُرْفُ بِأَنَّهُمْ يَنْتَظِرُوْنَ الطَّعَامَ، وَمِنْ غَلَبَةِ الْحَيَاءِ عَلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ يَتَكَلَّفُوْنَ التَّكَلُّفَ التَّامَّ، وَيُهَيِّئُوْنَ لَهُمْ أَطْعِمَةً عَدِيْدَةً، وَيُحْضِرُوْنَهَا لَهُمْ بِالْمَشَقَّةِ الشَّدِيْدَةِ.
Pertanyaan, “Apa yang dikatakan oleh para mufti yang mulia di tanah haram –moga ilmu mereka manfaat untuk banyak orang sepanjang zaman– tentang tradisi yang ada di suatu daerah. Tradisi ini hanya dilakukan oleh beberapa orang di daerah tersebut. Tradisi tersebut adalah jika ada seorang yang meninggal dunia lantas datanglah kawan-kawan mayit dan tetangganya untuk menyampaikan belasungkawa maka para kawan mayit dan tetangga ini menunggu-nunggu adanya makanan yang disuguhkan. Karena sangat malu maka keluarga mayit sangat memaksakan diri untuk menyiapkan beragam jenis makanan lalu menyuguhkannya kepada para tamu meski dalam kondisi yang sangat kerepotan.
فَهَلْ لَوْ أَرَادَ رَئِيْسُ الْحُكَّامِ – بِمَا لَهُ مِنَ الرِّفْقِ بِالرَّعِيَّةِ، وَالشَّفَقَةِ عَلَى الْاَهَالِيْ – بِمَنْعِ هَذِهِ الْقَضِيَّةِ بِالْكُلِّيَّةِ لِيَعُوْدُوْا إِلَى التَّمَسُّكِ بِالسُّنَّةِ السَّنِيَّةِ، الْمَأْثُوْرَةِ عَنْ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ وَالَى عَلَيْهِ رَبُّهُ صَلَاةً وَسَلَامًا، حَيْثُ قَالَ: اِصْنَعُوْا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا يُثَابُ عَلَى هَذَا الْمَنْعِ الْمَذْكُوْرِ ؟ أَفِيْدُوْا بِالْجَوَابِ بِمَا هُوَ مَنْقُوْلٌ وَمَسْطُوْرٌ.
Seandainya penguasa di daerah tersebut –karena belas kasihan dengan rakyat dan sayang dengan keluarga mayit– melarang keras perbuatan di atas agar rakyatnya kembali berpegang teguh dengan sunah sebaik-baik makhluk yang pernah bersabda, “Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far”. Apakah penguasa tersebut akan mendapatkan pahala karena melarang kebiasaan di atas? Berilah kami jawaban secara tertulis”.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالسَّالِكِيْنَ نَهْجَهُمْ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ الْهِدَايَةَ لِلصَّوَابِ.
Jawaban, “Segala puji hanyalah milik Allah. Semoga Allah senantiasa menyanjung junjungan kita, Muhammad, keluarga, sahabat dan semua orang yang meniti jalan mereka. Aku meminta petunjuk untuk memberikan jawaban yang benar kepada Allah.
نَعَمْ، مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنَ الْاِجْتِمَاعِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصُنْعِ الطَّعَامِ، مِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَى مَنْعِهَا وَالِي الْاَمْرِ، ثَبَّتَ اللهُ بِهِ قَوَاعِدِ الدِّيْنِ وَأَيَّدَ بِهِ الْاِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.
Betul, acara kumpul-kumpul di rumah duka dan kegiatan membuat makanan yang dilakukan oleh banyak orang adalah salah satu bentuk bid’ah munkarah. Sehingga penguasa yang melarang kebiasaan tersebut akan mendapatkan pahala karenanya. Semoga Allah meneguhkan kaidah-kaidah agama dan menguatkan Islam dan muslimin dengan sebab beliau.
Kami menjawab:
Adalah Syeikh Nawawi al Bantani. Beliau adalah satu guru dengan pengarang kitab I'anatuth Thaalibiin, yaitu Sayyid Abu Bakar ibn Sayyid Muhammad Syatha.
Keduanya adalah murid dari sayyid Ahmad Zaini Dahlan.
Jika Sayyid Abu Bakar ibn Sayyid Syatha mengarang kitab I'anatuth Thalibin sebagai hasyiyah dari kitab Fat-hul Mu'in, maka Syeikh Nawawi al Bantani mengarang kitab Nihayatuzzain sebagai Syarah dari kitab Fat-hul Mu'in.

Syeikh Nawawi dalam kitab tersebut (tepatnya pada halaman 281) menukil keterangan guru beliau yaitu Syeikh Yusuf as Sanbalawaini, bahwa adalah merupakan tradisi orang-orang bersedekah untuk orang yang sudah meninggal pada hari ketiga, ke tujuh..dst.
Adapun teks arabnya sbb:

وَالتَّصَدُّقُ عَنِ الْمَيِّتِ بِوَجْهٍ شَرْعِيٍّ مَطْلُوْبٌ وَلَا يَتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ فِيْ سَبْعَةِ أَيَّامٍ أَوْ أَكْثَرَ أَوْ أَقَلَّ وَتَقْيِـِيْدُهُ بِبَعْضِ الْأَيَّامِ مِنَ الْعَوَائِدِ فَقَطْ كَمَا أَفْتَى بِذَلِكَ السَّيِّدُ أَحْمَدُ دَحْلَانُ ، وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ الْمَيِّتِ فِيْ ثَالِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِيْ سَابِعٍ وَفِيْ تَمَامِ الْعِشْرِيْنَ وَفِي الْأَرْبَعِيْنَ وَفِي الْمِائَةِ، وَبَعْدَ ذَلِكَ يُفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلاًً فِيْ يَوْمِ الْمَوْتِ كَمَا أَفَادَهُ شَيْخُنَا يُوْسُفُ السَّنْبَلَاوَيْنِيُّ

Sedekah untuk mayit dengan tuntunan syara' adalah dianjurkan. Sedekah tersebut tidak terikat dengan hari ketujuh atau lebih atau kurang.
Adapun mengaitkan sedekah dengan sebagian hari adalah merupakan bagian dari adat saja, sebagaimana apa yang difatwakan oleh Sayyid Ahmad Dahlan.
Dan telah berjalan kebiasaan diantara orang-orang yaitu bersedekah untuk mayit pada hari ketiga dari kematiannya dan pada hari ketujuh, dan pada sempurnanya kedua puluh, ke empat puluh dan ke seratus.
Setelah itu dilaksanakanlah haul setiap tahun pada hari kematiannya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Yusuf as Sanbalawaini.
Sebagai tambahan, kami ketengahkan fatwa dari الشيخ أحمد بن غنيم النفراوي (Syaikh Ahmad ibn Ghunaim al Nafraawi, seorang ulama bermadzhab Maliki yang wafat pada tahun 1125).

Beliau dalam kitabnya الفواكه الدواني على رسالة ابن أبي زيد القيرواني
(al Fawaakih al Dawwaani 'alaa Risaalati Ibn Abi Zaid al Qairawaani) juz I halaman 285, cetakan tahun 1415, Daar al Fikr Beirut Lebanon
menerangkan sbb:

وَأَمَّا مَا يَصْنَعُهُ أَقَارِبُ الْمَيِّتِ مِنْ الطَّعَامِ وَجَمْعِ النَّاسِ عَلَيْهِ فَإِنْ كَانَ لِقِرَاءَةِ قُرْآنٍ وَنَحْوِهَا مِمَّا يُرْجَى خَيْرُهُ لِلْمَيِّتِ فَلَا بَأْسَ بِهِ ، وَأَمَّا لِغَيْرِ ذَلِكَ فَيُكْرَهُ ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ الْأَكْلُ مِنْهُ إلَّا أَنْ يَكُونَ الَّذِي صَنَعَهُ مِنْ الْوَرَثَةِ بَالِغًا رَشِيدًا فَلَا حَرَجَ فِي الْأَكْلِ مِنْهُ ، وَأَمَّا لَوْ كَانَ الْمَيِّتُ أَوْصَى بِفِعْلِهِ عِنْدَ مَوْتِهِ فَإِنَّهُ يَكُونُ فِي ثُلُثِهِ وَيَجِبُ تَنْفِيذُهُ عَمَلًا بِفَرْضِهِ


Adapun menghidangkan makanan yang dilakukan oleh kerabat mayit dan mengumpulkan orang-orang dalam acara tersebut, jika dengan maksud untuk membaca al Quran dan sebagainya yang mana diharapkan kebaikannya bagi si mayit, maka hal itu tidak apa-apa.
Namun jika tujuannya bukan untuk hal tersebut, maka hukumnya makruh, dan tidak seyogyanya bagi seseorang untuk memakan hidangan tersebut...dst.

Wallaahu A'alam

Sumber: http://id-id.facebook.com/note.php?note_id=123876517671782

Tambahan dari kami:
Wahhabi dalam membid’ahkan ritual tahlilan adalah bersumberkan dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya dari Shahabat Jarir ibn Abdillah al Bajali, beliau berkata:

كُنَّا نَعُدُّ الْاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَهُمُ الطَّعَامَ مِنَ النِّيَاحَةِ..
Kami menilai berkumpulnya banyak orang di rumah keluarga mayit, demikian pula aktivitas keluarga mayit membuatkan makanan adalah bagian dari niyahah (meratapi jenazah)”.

Validkah riwayat tersebut ?

Berikut matan dan sanadnya sebagaimana dalam Sunan Ibn Majah:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيْدُ بْنُ مَنْصُوْرٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ ح وَحَدَّثَنَا شُجَاعُ بْنُ مَخْلَدٍ أَبُوْ الْفَضْلِ قَالَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ أَبِىْ خَالِدٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِىْ حَازِمٍ عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِىِّ قَالَ كُنَّا نَرَى الْاِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ مِنَ النِّيَاحَةِ.
Sumber: Sunan Ibn Maajah 5/176 hadits nomor 1680
Link Kitab: http://islamport.com/d/1/mtn/1/49/1588.html
Keterangan:
Dalam hadits diatas ada rawi yang bernama:
هشيم Husyaim (bin Basyiir)
Siapakah beliau ?
Ibnu Sa'ad dalam kitab Ath Thabaqat juz 7 halaman 313 berkata:
كَانَ ثِقَةً كَثِيْرَ الْحَدِيْثِ ثَبَتًا يُدَلِّسُ كَثِيْرًا ، فَمَا قَالَ فِيْ حَدِيْثِهِ أَخْبَرَنَا فَهُوَ حُجَّةٌ وَمَا لَمَ ُيْقل فِيْهِ أَخْبَرَنَا فَلَيْسَ بِشَيْءٍ
Dia (Husyaim) adalah tsiqat (terpercaya), tsabat (jujur)
Dia banyak mentadlis. Jika yang ia katakan dalam haditsnya "AKHBARANAA" maka ia merupakah hujjah, jika tidak, maka itu bukan apa-apa."

Sumber:
اَلْكِتَابُ : اَلطَّبَقَاتُ الْكُبْرَى
اَلْمُؤَلِّفُ : مُحَمَّدُ بْنُ سَعْدِ بْنِ منيْعٍ أَبُوْ عَبْدِاللهِ الْبَصْرِيِّ الزُّهْرِيِّ
الناشر : دار صادر – بيروت
Link Kitab: http://islamport.com/d/1/trj/1/60/931.html

Berikut komentar Imam Ahmad tentang riwayat tersebut diatas sebagaimana dalam kitab “MASAA`IL AL IMAM AHMAD’’ halaman 388, nomor masalah 1867 :

قَالَ أَبُوْ دَاوَدَ : ذَكَرْتُ لِأَحْمَدَ حَدِيْثَ هُشَيْمٍ عَنْ إِسْمَاعِيْلَ عَنْ قَيْسٍ عَنْ جَرِيْرٍ : ( كُنَّا نَعُدُّ الْاِجْتِمَاعَ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ لَهُمْ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ ) زَعَمُوْا أَنَّهُ سَمِعَهُ مِنْ شَرِيْكٍ .
قَالَ أَحْمَدُ : وَمَا أُرَى لِهَذَا الْحَدِيْثِ أَصْلٌ

Imam Abu Dawud berkata: “ Aku menuturkan kepada Imam Ahmad hadits Husyaim dari Ismaa’il dari Qays dari Jarir:
كُنَّا نَعُدُّ الْاِجْتِمَاعَ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ لَهُمْ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ
Mereka menyangka bahwa dia mendengarnya dari Syariik,
(maka) Imam Ahmad berkata: “ Aku tidak mengerti hadits ini mempunyai asal.”

Sumber Kitab: Masaa`il al Imam Ahmad, Maktabah Ibn Taimiyyah, cetakan I tahun 1999 m – 1420 H
Sumber downlad Kitab: http://arablib.com/harf?view=book&lid=6&rand1=enJtR0FAJjFeRiQ2&rand2=MHkxViNFZUE0Q3o5


Sebagai penutup diskusi ini kami kutipkan fatwa dari Syeikh Bin Baz tentang makan-makan di tempat takziah:

وَقَالَ الشَّيْخُ عَبْدُالْعَزِيْزِ بْنُ بَازٍ ( ت 1420هـ) ـ رحمه الله تعالى ـ عِنْدَمَا سُئِلَ عَنْ جُلُوْسِ أَهْلِ الْمَيِّتِ لِاسْتِقْبَالِ الْمُعَزِّيْنَ وَاجْتِمَاعِهِمْ لِذَلِكَ.
قَالَ ـ رحمه الله تعالى ـ:( لَا أَعْلَمُ بَأْسًا فِيْمَنْ نَزَلَتْ بِهِ مُصِيْبَةٌ بِمَوْتِ قَرِيْبٍ، أَوْ زَوْجَةِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْمُعَزِّيْنَ فِيْ بَيْتِهِ فِي الْوَقْتِ الْمُنَاسِبِ، لِأَنَّ التَّعْزِيَةَ سُنَّةٌ، وَاسْتِقْبَالَ الْمُعَزِّيْنَ مِمَّا يُعِيْنُهُمْ عَلَى أَدَاءِ السُّنَّةِ؛ وَإِذَا أَكْرْمَهُمْ بِالْقَهْوَةِ، أَوِ الشَّايِ، أَوِ الطّيبِ، فَكُلُّ ذَلِكَ حَسَنٌ

Berkata Syeikh Abdul Aziz Ibn Baaz (wafat tahun 1420 H) ketika ditanya tentang duduknya keluarga mayit menemui orang-orang bertakziah.
Beliau menjawab: “Tidak apa-apa bagi orang yang tertimpa musibah dengan kematian kerabatnya, istrinya dan sebagainya untuk menemui orang bertakziah dirumahnya pada waktu yang pantas. Karena takziah hukumnya sunnah, menemui orang bertakziah termasuk menolong mereka dalam menjalankan sunnah.
Dan jika mereka disuguhi kopi, teh dan (makanan) yang enak maka itu semuanya adalah bagus.


Semoga bermanfaat.
Sekian dan terima kasih.
Wallaahu al Muwaffiq li aqwam ath tharieq.

Pekalongan, 26 Shafar 1432 H / 20 Januari 2012 M

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar